1.209 Siswa di Kediri Lakukan Tiban Shake
KEDIRI - Sebanyak 1.209 siswa se-Kabupaten Kediri,
Jawa Timur, melakukan Tiban shake, yakni menari dan bergoyang tari
Tiban secara massal. Tiban shake digelar di depan Monumen Simpang Lima
Gumul (SLG).
Tiban adalah ritual kuno meminta hujan, salah satu seni tradisional khas Kabupaten Kediri.
Mengenakan tekes (ikat kepala), sebagaimana tradisi Panji, para siswa dari berbagai sekolah di Kediri melakukan olah gerak secara berhadapan. Mereka menggunakan kaos merah dan celana hitam.
“Jumlah 1.209 sesuai hari ulang tahun Kabupaten Kediri yang jatuh pada 25 Maret 2013 ini,” tutur Bupati Kediri, Hariyati Sutrisno di lokasi, Senin (25/3/2013)
Seikat cemeti di tangan diputar di udara. Gerakan para petani tampak lentur mengikuti irama gamelan Jawa. Sekira 20 menit di bawah terik matahari, para siswa itu bergoyang. Gerak harmonis Tiban shake ditutup dengan saling mencambuk satu sama lain.
Tiban adalah ritual kuno meminta hujan, salah satu seni tradisional khas Kabupaten Kediri.
Mengenakan tekes (ikat kepala), sebagaimana tradisi Panji, para siswa dari berbagai sekolah di Kediri melakukan olah gerak secara berhadapan. Mereka menggunakan kaos merah dan celana hitam.
“Jumlah 1.209 sesuai hari ulang tahun Kabupaten Kediri yang jatuh pada 25 Maret 2013 ini,” tutur Bupati Kediri, Hariyati Sutrisno di lokasi, Senin (25/3/2013)
Seikat cemeti di tangan diputar di udara. Gerakan para petani tampak lentur mengikuti irama gamelan Jawa. Sekira 20 menit di bawah terik matahari, para siswa itu bergoyang. Gerak harmonis Tiban shake ditutup dengan saling mencambuk satu sama lain.
Kesenian
Tiban atau Ritual Tiban merupakan tari rakyat yang sudah mengakar dan
berkembang dimasyarakat disekitaran Kediri.
Tari Tiban selalu dipertujukkan saat musim kemarau yang berkepanjangan
dengan tujuan sebagai permohonan diturunkannya hujan.
Ritual Tiban dilakukan dengan cara
mengadu kekuatan dengan menggunakan cambuk. Cambuk untuk senjata ini
terbuat dari lidi aren yang di pintal dengan jumlah
tertentu. Ritual ini layaknya ajang mengadu ilmu ketrampilan atau
kesaktian sambil menari-nari dan saling mencambuk dengan hitungan yang
ditentukan oleh Landang (wasit). Cambuk yang digunakan dalam tari ini
terbuat dari lidi pohon aren yang biasa di sebut pecut.
Khusus di wilayah Kediri ada sebuah kisah
tentang asal muasal kesenian ini. Alkisah dahulu kala di kerajaan
Kediri, berkuasa seorang raja yang otoriter, sang Raja ingin
diperdewakan. Demikian gambaran Raja Kediri yang menyebutnya KERTAJAYA.
Sehingga rakyat menurut perintahnya bukan karena patuh melainkan karena
takut. Wilayah Kerajan Kediri termasuk kademangan Ngimbang (Sekarang
Ngadiluwih) mempunyai 4 kademangan yaitu: Kademangan Ngimbang,
Megalamat, Jimbun dan Ceker. Meskipun diperintah oleh sang Raja yang
otoriter namun keadaan masyarakat makmur, segala masalah diselesaikan
secara Gotong Royong. Masyarakat lebih dahulu panen membagi kepada
tetangga, namun sayang kepribadian yang demikian tidak dapat perhatian
oleh rajanya, bahkan Brahmana pun diminta untuk menyembah dan mendewakan
dia.
Kemakmuran itu tiba-tiba sirna oleh
datangannya kemarau yang sangat panjang. Kemarau yang berlangsung
panjang tersebut diyakini merupakan kutukan kepada manusia atas
ketidakpercayaan dan ketidaktakwaan terhadap kekuatan yang lebih tinggi.
Untuk itu para demang bermusyawarah dengan para Pinisepuh, beberapa
usul, saran dan pendapat, untuk menebus kutukan tersebut. Rakyat
Ngimbang dengan sisa hartanya sedikit diberikan untuk digunakan sebagai
syarat pelaksanaan Upacara Adat, bagi yang masih mempunyai padi dimohon
memberikan seikat, dan bagi yang memiliki lembu membawa pecutnya sebagai
lambang kekayaanya.
Setelah semua siap kemudian rakyat berkomunikasi dengan kekuatan super natural. Memohon pengampun kepada kekuatan yang
lebih tinggi. Selanjutnya sebagai ritualnya masyarakat menyiksa diri
dan berjemur dipanas terik. Sarana ini dirasa belum dapat berkomunikasi
dengan kekuatan super natural, maka penyiksaan diri tersebut lebih
dipertajam dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren (lidi
dari tumbuhan berbuah kolang-kaling/pohonnya menghasilkan ijuk). Prosesi
ritualnya diantara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk
secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran
darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa.
Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada
musimnya. Hujan yang semacam inilah yang disebut Hujan Tiban (hujan
secara tiba-tiba). kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak
dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Demikian
kejadian itu yang kemudian upacara tersebut dinamakan TIBAN, dan
diteruskan oleh masyarakat setempat secara turun temurun,bila terjadi
kemarau panjang.
lebih tinggi. Selanjutnya sebagai ritualnya masyarakat menyiksa diri
dan berjemur dipanas terik. Sarana ini dirasa belum dapat berkomunikasi
dengan kekuatan super natural, maka penyiksaan diri tersebut lebih
dipertajam dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren (lidi
dari tumbuhan berbuah kolang-kaling/pohonnya menghasilkan ijuk). Prosesi
ritualnya diantara para peserta upacara tradisi ini saling mencambuk
secara bergiliran. Sudah barang tentu dalam permainan ini banyak cucuran
darah, karena kekhusukannya maka segala yang diderita tidak terasa.
Dalam suasana religi inilah kemudian turun hujan yang tidak pada
musimnya. Hujan yang semacam inilah yang disebut Hujan Tiban (hujan
secara tiba-tiba). kegembiraan rakyat Ngimbang beserta Pinisepuh tidak
dapat digambarkan, bersyukurlah mereka atas Rahmat-Nya. Demikian
kejadian itu yang kemudian upacara tersebut dinamakan TIBAN, dan
diteruskan oleh masyarakat setempat secara turun temurun,bila terjadi
kemarau panjang.
Saya benar – benar kangen saat pertama
kali melihat ritual tersebut. Bagaimana tidak, mereka saling mencambuk
secara bergantian.. gila bener, tp itulah inti dari kesenian ini.
Dan yang lebih menarik lagi, kesenian ini
sudah mengalami pelebaran makna. Tidak saja sebagai permohonan hujan
tetapi sudah menjadi ajang hiburan dan tontonan masyarakat, karena
kesenian ini sudah menjadi semacam lomba dan pemenangnya mendapat
hadiah. Apapun itu marilah kita ambil sisi positifnya saja, yaitu
ketulusan dan militansi dari masyarakat masa lalu berjuang untuk
kemakmuran bersama.
Kalau ingin melihat dengan mata kepala
sendiri, bisa datang di wilayah kecamatan Ngadiluwih kab. Kediri setiap
tanggal 1 Suro, yang pasiti seru dan menegangkan. Namun bagi yang tidak
tahan melihat adegan kekerasan sebaikna menyiapkan mental terlebih
dahulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar